KAMUS SEPUTAR STUNTING
Diterbitkan oleh Unit Promosi Kesehatan dan Unit Gizi Puskesmas Gamping II
(Q : Question (pertanyaan), dan A : Answer (jawaban))
Q : Apa itu stunting ?
A : Stunting yaitu kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis (jangka panjang) dan infeksi berulang, terutama pada periode 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) yaitu dari janin hingga anak usia 24 bulan
Q : Apa bedanya anak pendek dengan anak stunting ?
A : tidak semua balita pendek itu stunting, sehingga perlu dibedakan oleh dokter anak, tetapi anak yang stunting pasti pendek. Stunting merupakan kondisi dimana tinggi badan anak lebih pendek dibandingkan dengan usianya yang dikarenakan kurangnya asupan gizi kronis (jangka panjang) dan infeksi berulang, terutama pada periode 1.000 hari pertama kehidupan (HPK), yaitu dari janin hingga anak berusia 24 bulan.
Q : Apakah perbedaan antara stunting dan gizi buruk ?
A : Ciri-ciri anak dengan gizi buruk biasanya memiliki ciri-ciri kulit yang kering, lemak di bawah kulit berkurang, dan otot mengecil. Jika telah mencapai tahap lanjut, ada kemungkinan perut anak menjadi buncit. Sementara itu, ciri anak yang mengalami stunting adalah pertumbuhannya yang melambat. Hal itu dapat dilihat dari tubuh yang lebih pendek dan tampak lebih muda dibanding teman-teman seusianya. Faktor penyebab pada dasarnya gizi buruk disebabkan oleh kekurangan asupan gizi dalam waktu yang relatif singkat ketimbang stunting. Kekurangan asupan nutrisi dalam jangka waktu tertentu membuat berat badan anak turun dan memicu timbulnya gizi buruk. Sedangkan anak dengan kasus stunting, umumnya diakibatkan kekurangan gizi dalam jangka panjang, terutama di masa 1.000 hari pertama kehidupan anak. Dampak anak dengan gizi buruk akan mudah mengalami infeksi karena kekebalan tubuhnya rendah. Selain itu, anak dengan gizi buruk juga memiliki intelligence quotient (IQ) atau tingkat kecerdasan rendah. Pada jangka panjang, gizi buruk dapat mengakibatkan pertumbuhan anak berhenti sebelum waktunya. Lebih jauh lagi, gizi buruk dalam jangka panjang akan menyebabkan anak kurus (wasting) dan stunting. Sementara itu, stunting pada anak akan berdampak pada gangguan metabolisme, rendahnya kekebalan tubuh, dan ukuran fisik tubuh yang tidak optimal.
Q : Apa saja ciri-ciri anak stunting ?
A : pertumbuhan melambat, wajah terlihat lebih muda dari usianya, pertumbuhan gigi terlambat, berat badan tidak naik bahkan cenderung menurun, perkembangan tubuh terhambat (seperti menstruasi pertama anak perempuan terlambat), anak mudah terkena penyakit infeksi, pada usia 8-10 tahun anak menjadi lebih pendiam, tidak banyak melakukan kontak mata terhadap orang disekitarnya
Q : Apa penyebab stunting ?
A : Anak stunting merupakan indikasi kurangnya asupan gizi, baik secara kuantitas maupun kualitas. Anak stunting bermula dari Ibu yang mengalami kekurangan asupan gizi saat mengandung. Hal ini dapat diperparah dengan kurangnya makan makanan bergizi, infeksi berulang, dan diet yang salah pada anak. Sehingga mereka tidak mendapat nutrisi yang cukup untuk mendukung tumbuh kembangnya.
Q : Makanan apa yang menyebabkan stunting ?
A : tidak ada makanan yang menyebabkan stunting namun karena kurangnya akses makanan bergizi dimulai dari kehamilan, pemberian ASI, dan juga pemberian makanan pendamping ASI berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan anak.
Q : Adakah pengaruh antara pola asuh dengan kejadian stunting?
A : Stunting juga dipengaruhi aspek perilaku, terutama pada pola asuh yang kurang baik dalam praktek pemberian makan bagi bayi dan Balita. Pola asuh yang baik bergatung pada pengetahuan ibu. Sejak di dalam kandungan, bayi sudah membutuhkan berbagai nutrisi untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Untuk mencapai ini, ibu harus berada dalam keadaan sehat dan bergizi baik. Jika ibu tidak memiliki pengetahuan akan asupan nutrisi yang baik untuknya dan janin, hal ini akan sulit didapatkan. Begitu pula setelah lahir, 1000 hari pertama kehiduan (0-2 tahun) adalah waktu yang sangat krusial untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Pada masa ini, bayi membutuhkan ASI eksklusif selama 6 bulan dan tambahan makanan pendamping ASI (MPASI) yang berkualitas setelahnya. Oleh karena itu, ibu harus memiliki pengetahuan yang cukup mengenai gizi anak.
Q : Adakah pengaruh antara sanitasi dan akses air bersih dengan kejadian stunting ?
A : Rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan, termasuk di dalamnya adalah akses sanitasi dan air bersih, mendekatkan anak pada risiko ancaman penyakit infeksi seperti diare dan kecacingan. Untuk itu, perlu membiasakan cuci tangan pakai sabun dan air mengalir, serta tidak buang air besar sembarangan.
Q : Apa pengaruhnya merokok dengan kejadian stunting ?
A : Perilaku merokok pada orangtua berpengaruh pada anak stunting dengan dua cara. Yang pertama, melalui asap rokok orang tua perokok yang memberi efek langsung pada tumbuh kembang anak. Kandungan nikotin yang ada dalam asap rokok dapat mengganggu penyerapan gizi pada janin atau anak, yang pada akhirnya akan mengganggu tumbuh kembangnya. Dengan perhitungkan faktor genetik dan lingkangan dari anak dalam penelitian Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menegaskan adanya bukti kuat dan konsisten secara statistik bahwa anak yang memiliki orangtua perokok kronis (jangka panjang) memiliki resiko stunting 5.5% lebih tinggi dibandingakan dengan anak dari orangtua bukan perokok. Sedangkan, paparan asap rokok dalam rumah menyebabkan anak memiliki resiko terkena infeksi saluran pernafasan akut (ISPA). Infeksi terutama bersifat kronis berulang dapat menghambat pertumbuhan anak dan meningkatkan risiko stunting. Pengaruh perilaku merokok yang kedua, dilihat dari sisi biaya belanja rokok, membuat orangtua mengurangi jatah biaya belanja makanan bergizi, biaya kesehatan, biaya pendidikan dan lain-lain.
Q : Apa dampak stunting pada anak ?
A : Adapun dampaknya yaitu fungsi kekebalan tubuh menurun sehingga anak akan mudah sakit dan rentan terhadap penyakit infeksi, anak tidak mampu tumbuh dan berkembang sesuai usianya seperti gangguan perkembangan bahasa usia 12 bulan belum bisa mengucapkan 2-3 suku kata, gangguan perkembangan motorik bayi hingga usia 9 bulan belum bisa merangkak, gangguan perkembangan fisik tinggi badannya tidak sesuai usianya, gangguan perkembangan sosial emosional bayi hingga usia 18 bulan belum memperlihatkan rasa cemburu atau bersaing, gangguan perkembangan kognitif bayi hingga 18 bulan belum bisa memasukkan kubus ke kotak. Saat remaja akan sulit berkonsentrasi, menstruasi terlambat, tidak percaya diri, dan untuk jangka panjang berresiko terkena penyakit yang berhubungan dengan pola makan seperti obesitas, jantung, hipertensi, diabet.
Q : Apakah stunting dapat diketahui saat hamil?
A : Stunting baru dapat diketahui/dideteksi setelah anak lahir. Namun, kondisi penyebab stunting bisa berasal semenjak dalam kandungan seperti misalnya ibu mengalami infeksi selama hamil, kurang nutrisi atau karena kelainan genetik tertentu. Oleh karena itu, penting untuk melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin (minimal 6 kali; 2 kali pada trimester 1, 1 kali pada trimester 2, dan 3 kali pada trimester 3) .
Q : Apakah bayi yang lahir dari orangtua pendek akan melahirkan anak stunting ?
A : tidak, anak masih bisa tumbuh tinggi meski terlahir dari orangtua yang pendek faktor keturunan hanya 10-20% dalam menentukan tinggi badan sedangkan sisanya faktor makanan dan lingkungan. Hal ini berarti jika orangtua memperhatikan nutrisi makanan selama kehamilan, nutrisi anak, lingkungan yang sehat selama periode emas anak yaitu sampai usia 2 tahun, maka akan benar-benar memiliki postur tubuh yang tinggi sesuai usianya.
Q : Bagaimana mencegah stunting di 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) ?
A : Dimulai dari edukasi tentang kesehatan reproduksi dan gizi bagi remaja sebagai cikal bakal keluarga, hingga para calon ibu memahami pentingnya memenuhi kebutuhan gizi saat hamil dan stimulasi bagi janin, serta memeriksakan kandungan enam kali selama kehamilan. Bersalin di fasilitas kesehatan, lakukan inisiasi menyusu dini (IMD) dan berupayalah agar bayi mendapat colostrum air susu ibu (ASI). Berikan hanya ASI saja sampai bayi berusia 6 bulan. Setelah itu, ASI boleh dilanjutkan sampai usia 2 tahun, namun berikan juga makanan pendamping ASI. Jangan lupa untuk melakukan pemantauan tumbuh kembang anak dengan membawa buah hati ke Posyandu setiap bulan. Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah berikanlah hak anak mendapatkan kekebalan dari penyakit berbahaya melalui imunisasi yang telah dijamin ketersediaan dan keamanannya oleh pemerintah yang tersedia di Puskesmas.
Q : Apakah stunting setelah usia 2 tahun (sudah lewat 1000 hari pertama kehidupan) sama sekali tidak bisa diperbaiki?
A : Ada dua masalah akibat stunting yaitu pertumbuhan otak dan tinggi badan. Pertumbuhan otak sangat pesat terjadi pada 2 tahun pertama sehingga setelah usia 2 tahun, tidak bisa diperbaiki. Tinggi badan masih bisa diperbaiki dengan berharap pada fase pubertas. Periode emas yang masih bisa memperbaiki stunting adalah sebelum usia 2 tahun, dan hasilnya pun tidak bisa kembali sempurna, artinya bisa diperbaiki namun tidak optimal. Perlunya pemanfaatan buku KIA dalam penanganan stunting.
Q : Apa saja manfaat buku KIA dalam penanganan stunting ?
A : Buku KIA berisi informasi penting mengenai Kesehatan ibu dan anak yang perlu dilakukan ibu suami dan keluarganya secara singkat dan padat. Manfaat buku KIA adalah mencegah terjadinya gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada anak yang berhubungan dengan jadwal imunisasi, monitoring perkembangan anak mulai dari motorik halus dan motorik kasar serta informasi gizi seimbang dan berat badan ideal sesuai umur dan vitamin A
Q : Apakah vitamin maupun suplemen / minyak ikan dapat mencegah stunting?
A : Stunting dapat dicegah dengan pemberian nutrisi yang tepat. Nutrisi pembangun tumbuh adalah makronutrien yang terdiri dari Karbohidrat, protein dan lemak. Sedangkan vitamin dan mineral merupakan mikronutrien yang merupakan zat pendukung, bukan pembangun. Vitamin dan mineral terbaik berasal dari makanan. Tidak ada vitamin dan suplemen pencegah stunting.
Q : Adakah cara cepat/ tips mencegah stunting?
A : Sayangnya tidak ada cara yang cepat, namun ada cara yang mudah yang harus dilakukan bertahun-tahun. Pencegahan stunting adalah perjalanan yang cukup panjang dari mempersiapkan remaja putri sebelum menempuh kehamilan, perencanaan keluarga dan kehamilan yang matang, menjaga kehamilan yang sehat, nutrisi saat hamil dan menyusui, manajemen laktasi yang baik, manajemen Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang adekuat, mencegah penyakit dengan imunisasi yang lengkap dan pemantauan pertumbuhan anak terus-menerus. Jadi tidak ada cara cepat.
Q : Perlukah menambah susu formula saat Makanan Pendamping ASI (MPASI) pada anak stunting jika kenaikan berat badan susah naik?
A : Tidak perlu, selama produksi ASI masih cukup serta kuantitas dan kualitas Makanan Pendamping ASI (MPASI) cukup. Makan asupan yang merangsang pertumbuhan tinggi, energi (karbohidrat dan lemak), harus cukup protein terutama hewani seperti daging sapi, ayam, ikan, telur karena zat ini akan dipakai untuk tumbuh. Pemberian ASI pada masa MPASI tetap dominan.
Q : Makanan apa yang bisa mencegah stunting?
A : Makan asupan yang merangsang pertumbuhan tinggi, energi (karbohidrat dan lemak), harus cukup protein terutama hewani seperti daging sapi, ayam, ikan, telur karena zat ini akan dipakai untuk tumbuh. Memastikan dalam pemenuhan nutrisi pada saat kehamilan dan MPASI yang berkualitas.
Q : Apakah bisa disebut stunting jika bayi kurang dari 6 bulan kenaikan berat badan melambat bahkan tidak naik?
A : Stunting adalah ukuran tinggi badan yaitu pendek dibandingkan dengan anak seusianya. Stunting disebabkan karena kurangnya asupan gizi yang berlangsung lama, oleh karena itu berat badan yang tidak naik merupakan awal menuju kepada stunting. Jika bayi kurang dari 6 bulan kenaikan berat badan melambat bahkan tidak naik perlu melakukan evaluasi manajemen laktasinya, posisi dan pelekatannya saat menyusui apakah sudah betul, kemudian pola pemberian ASI seberapa sering dan seberapa lama ibu menyusui.
Q : Bagaimana cara mengejar stunting pada bayi usia 6-12 bulan ?
A : pemberian ASI tetap diberikan dengan tambahan makanan pendamping ASI (MPASI) setidaknya diberikan 3-4x sehari dengan kualitas dominan protein hewani. MPASI usia 6-9 bulan memiliki tekstur yang lembut, lumat namun tidak encer. Porsi MPASI sekitar 80-120 ml (1/2 mangkok dewasa) dengan variasi makan sesuai gizi seimbang menu empat bintang (ada makanan pokok, lauk hewani, lauk nabati, sayur dan buah), membatasi camilan sehari tidak lebih dari 2 kali. Evaluasi juga bagaimana saat pemberian MPASI, apakah bayi diberikan makan saat kenyang (setelah menyusu) sehingga bayi cenderung menolak makan atau kurang variasi menu sehingga bosan.
Q : Pertumbuhan berat badan melambat dan bahkan cenderung tidak naik, apakah stunting?
A : Bukan, stunting adalah ukuran tinggi badan yaitu pendek dibandingkan dengan anak seusianya. Stunting disebabkan karena kurangnya asupan gizi yang berlangsung lama, oleh karena itu berat badan yang tidak naik merupakan awal menuju kepada stunting.
Q : Bagaimana cara pemberian zat besi pada anak-anak dan remaja?
A : Remaja putri (terutama yang sudah haid) dianjurkan mengkonsumsi suplemen zat besi 1 kali seminggu. Pada anak di atas 1 tahun, dianjurkan pemeriksaan zat besi darah sebelum memutuskan pemberian suplemen zat besi. Pemeriksaan zat besi meliputi darah lengkap, serum besi, Total Iron Binding Capacity (TIBC) dan ferritin.
Q : Apakah Ibu hamil anemia bisa melahirkan bayi stunting?
A : Ya, saat Ibu mengalami anemia, darah Ibu tidak memiliki sel darah merah yang cukup sehat untuk mengangkut oksigen ke jaringan Ibu dan kepada janin. Selama masa kehamilan, tubuh Ibu akan memproduksi lebih banyak darah demi mendukung perkembangan janin di dalam kandungan Ibu. Jika Ibu tidak mendapatkan zat besi yang cukup atau nutrisi penting lainnya, maka tubuh Ibu tidak akan mampu memproduksi sel darah merah. Hal ini biasanya disebabkan karena kurangnya asupan gizi, terutama zat besi. Kebutuhan zat besi pada tubuh ibu hamil terus-menerus meningkat sesuai dengan usia kehamilan. Zat besi adalah zat gizi penting untuk membentuk hemoglobin, yakni protein dalam sel darah merah yang membawa oksigen ke seluruh jaringan dan organ tubuh. Pada ibu hamil sendiri, apabila kadar Hb sudah kurang dari 11gr/dl, maka sudah teridentifikasi mengalami anemia. Anemia pada ibu hamil dapat terjadi karena asupan gizi yang kurang. Ibu hamil dengan status gizi kurang akan lebih mudah merasa lemah, letih, lesu, lunglai dan nafsu makan berkurang sehingga asupan gizi yang dibutuhkan tidak terpenuhi karena ketika nafsu makan menurunkan ibu hamil akan mudah mengalami anemia. Pada kasus ibu hamil dengan anemia menjadi mudah lelah dan tidak berenergi. Padahal, energi sangat penting bagi ibu maupun janin dalam kandungannya. Jika anemia terus dibiarkan maka dampaknya cukup serius berupa risiko infeksi, gangguan pertumbuhan janin yaitu berat badan bayi lahir rendah dan panjang badan bayi lahir pendek (stunting), potensi bayi prematur, hingga pendarahan pasca melahirkan.
Q : Bagaimana pencegahan anemia saat kehamilan ?
A : pemenuhan kebutuhan gizi selama kehamilan dan pemeriksaan rutin kehamilan melalui AnteNatal Care (ANC) terpadu di fasiltitas kesehatan yaitu Puskesmas. Program ANC Terpadu mulai dari pemeriksaan bidan, pemeriksaan dokter, dokter gigi, pemeriksaan laboratorium dan konsultasi gizi. Pelaksanaan ANC terpadu ini dapat menilai status gizi pasien dan langsung diintervensi oleh petugas kesehatan yang berkompeten juga dapat menilai risiko infeksi yang mungkin dialami oleh ibu hamil dengan beberapa pemeriksaan laboratoris. Menilai kadar hemoglobin saat ANC terpadu juga penting dilaksanakan untuk menilai status anemia ibu hamil tersebut. ANC terpadu merupakan pemeriksaaan kehamilan yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan fisik dan mental pada ibu hamil secara optimal, hingga mampu menghadapi masa persalinan, nifas, persiapan pemberian ASI secara Eksklusif, serta kembalinya kesehatan alat reproduksi dengan wajar. ANC terpadu memastikan ibu hamil sudah mendapatkan konseling makan makanan dengan pola gizi seimbang, pencegahan terpaparannya asap rokok, pemberian suplementasi asam folat, kalsium dan tablet tambah darah, pemeriksaan dan screening diabetes melitus, HIV, sifilis, serta screening kekerasan selama kehamilan.
Q : Bagaimana obat cacing dapat mencegah stunting ?
A : kecacingan pada balita dapat menyebabkan terganggunya penyerapannya zat-zat yang bergizi pada usus halus sehingga balita dapat mengalami gangguan petumbuhan (stunting). Pemberian obat cacing pada anak dianjurkan setahun 2 kali, pada anak sehat usia 6-12 bulan diberikan ½ tablet (200 Mg) sedangkan anak usia 12-24 bulan diberikan 1 tablet (400 Mg). Pembagian obat cacing melalui posyandu dengan pemantauan petugas puskesmas.
Q : Bolehkan minum obat cacing Albendazole bersamaan dengan minum susu?
A : Boleh, disarankan ketika meminum obat cacing albendazole dengan makan makanan yang berlemak salah satunya yaitu susu karena dengan meminum susu atau makanan yang tinggi lemak akan membantu penyerapan obat lebih baik.
Referensi :
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan, (26 Agustus 2022). Mengenal Apa Itu Stunting https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/1388/mengenal-apa-itu-stunting, diakses pada 27 Desember 2022.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan, (13 September 2022), Ciri Anak Stunting https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/1519/ciri-anak-stunting, diakses pada 27 Desember 2022.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan, (03 Agustus 2022). Hidup Bebas Stunting dan Obesitas, dengan Gizi Seimbang https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/889/hidup-bebas-stunting-dan-obesitas-dengan-gizi-seimbang, diakses pada 27 Desember 2022.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan, (14 September 2022). Faktor-faktor Penyebab Kejadian Stunting pada Balita https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/1529/faktor-faktor-penyebab-kejadian-stunting-pada-balita, diakses pada 27 Desember 2022.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan, (05 Juli 2022). Cegah Stunting dengan Makanan Bergizi Seimbang pada 1000 Hari Kehidupan Pertama Anak https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/149/cegah-stunting-dengan-makanan-bergizi-seimbang-pada-1000-hari-kehidupan-pertama-anak, diakses pada 27 Desember 2022.
Kementerian Kesehatan RI. 2011. Modul Pelatihan Konseling MP-ASI Pedoman Pelatih. Jakarta: Ditjend Bina Gizi dan KIA.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan, (03 Agustus 2022). Stunting vs Wasting pada Anak https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/1673/stunting-vs-wasting-pada-anak, diakses pada 27 Desember 2022.
Ikatan Dokter Anak Indonesia, (19 April 2015). Kapan Anak Dikatakan Mengalami Pubertas? https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/kapan-anak-dikatakan-mengalami-pubertas, diakses pada 27 Desember 2022.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan, (22 Desember 2022). Bumil Sehat dan Terhindar dari Stunting https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/1978/bumil-sehat-dan-terhindar-dari-stunting, diakses pada 27 Desember 2022.
Dr. dr. Diah Rumekti Hediati, Sp.OG. 2022. Nutrisi Ibu Hamil Sebagai Upaya Pencegahan Stunting. Departemen Obstetri dan Ginekologi FK-KMK UGM.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan, (05 Agustus 2022). Kapan Sebaiknya MPASI Mulai Diberikan ? https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/1100/kapan-sebaiknya-mpasi-mulai-diberikan, diakses pada 27 Desember 2022.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan, (22 November 2022). Pengaruh Paparan Asap Rokok pada Ibu Hamil https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/1853/pengaruh-paparan-asap-rokok-pada-ibu-hamil, diakses pada 27 Desember 2022.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, (25 Juni 2018). Konsumsi Rokok Akibatkan Anak Stunting https://p2ptm.kemkes.go.id/kegiatan-p2ptm/pusat-/konsumsi-rokok-akibatkan-anak-stunting#:~:text=Dengan%20memperhitungkan%20faktor%20genetik%20dan,dari%20orang%20tua%20bukan%20perokok, diakses pada 31 Desember 2022.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan, (22 November 2022). Seberapa Penting Buku KIA? https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/1298/seberapa-penting-buku-kia, diakses pada 27 Desember 2022.
Pedoman Pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) Bagi Remaja Putri Pada Masa Pandemi Covid-19, Direktorat Gizi Masyarakat Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan 2020.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2017. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2017 tentang Penanggulangan Cacingan.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan, (10 Agustus 2022). Cacingan pada Anak https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/1288/cacingan-pada-anak, diakses pada 27 Desember 2022.
Semoga bermanfaat yah Sahabat Sehat Punggawa !
Salam, Punggawa Sehati !
